Sunday, January 5, 2014

Apa Kata Dunia?

Bagiku, hidup itu tidak pernah terasa mudah. Bahkan ketika aku melewati hari-hari yang menyenangkan, bertemu orang-orang yang begitu peduli dengan diriku, menghabiskan waktu berbincang akan banyak hal, mengulas banyak permasalahan dan solusi yang mungkin, atau sekadar mencurahkan isi hati. Aku memang orang yang begitu rumit.

Ada banyak waktu di mana aku merasa rumit menjadi orang yang begitu rumit. Ada terlalu banyak waktu ketika aku hanya menginginkan satu hal: menjadi orang yang sederhana. Punya pemikiran yang sederhana, punya keinginan yang sederhana, dan bisa memaknai hidup dengan sederhana. Sayangnya, sekeras apapun aku berusaha menjadi orang seperti itu, aku justru semakin sulit bergulat dalam dan dengan diriku sendiri.

Ya, aku memang aneh. Mungkin yang paling aneh dari kumpulan yang teraneh. Aku tidak bisa begitu saja tidur bahkan ketika sudah seminggu aku hanya tidur selama 5-6 jam, dan melewati minggu yang begitu panjang. Aku tidak bisa tidak memikirkan hal-hal kecil tentang diriku dan hubunganku dengan orang-orang terdekatku. Aku tidak bisa tidak harus menuliskan semua isi kepalaku untuk bisa tidur dengan tenang, seolah tidak ada hari esok, dan persoalan itu harus diselesaikan sekarang.

Unik. Banyak orang baik yang akan memberiku label begitu. Ya, aku hanya bisa bersyukur bahwa masih ada orang-orang yang peduli denganku dan masih mau berteman denganku terlepas dari “keunikanku” yang begitu rupa.

Sebenarnya, semua tulisan ini aku buat hanya dan hanya karena salah satu teman terbaikku, Meilani, mengatakan satu kalimat yang begitu menohokku hari ini. Satu pesan yang harus kujalankan kalau aku memang benar-benar ingin memulai hubungan yang baik dengan laki-laki manapun. Intinya, aku harus bisa mengerem kebiasaanku untuk secara berlebihan memprioritaskan laki-laki di atas segalanya. Tentunya dengan memberikan orang tersebut ruang untuk dirinya sendiri. Karena hanya itu satu-satunya cara mendapatkan orang yang juga sesuai dengan preferensiku –yang punya dunianya sendiri, di mana dunia itu tentunya tidak berporos padaku.

Jadilah aku luar biasa bingung dibuatnya. Karena kata-kata itu tidak lain dan tidak bukan: 100% benar. Ya, aku memang selalu tertarik pada laki-laki yang misterius, yang punya dunia yang berbeda, yang tidak memfokuskan hidupnya hanya untuk menyenangkan aku. Tapi, aku harus ingat juga bahwa ketika mereka tidak memfokuskan hidupnya untukku, aku ada di prioritas kesekian dalam hidupnya, sehingga aku tidak berhak memaksanya memprioritaskan aku, dengan sederetan tuntutan-tuntutan lainnya. Aku harus benar-benar bisa belajar untuk memberikannya ruang, supaya hal buruk yang terjadi padaku di masa lalu tidak lagi terulang.

Masalahnya, aku sendiri tidak tahu bagaimana harus memulainya. Mungkin kontrol diri. Tapi hey, tentu saja itu tidak pernah mudah. Aku orang yang benar-benar sensitif, emotionally driven. Singkat kata, aku selalu mengandalkan emosi dalam menjalankan segala sesuatunya. Alhasil, ketika sudah jatuh cinta, aku jadi secara berlebihan memprioritaskan seseorang, dan menginginkan orang tersebut juga melakukan yang sama, karena di situlah letak kebahagiaanku. Sayangnya, kembali pada pernyataan sebelumnya, orang-orang yang kuharapkan tidak pernah memberikan prioritas yang sama, karena mereka punya tuntutan hidup yang lebih tinggi dariku.

Pastinya, aku ingin mencari orang yang bisa memberikan prioritas yang sama dibandingkan yang tidak, tapi tentunya masih dengan spark yang sama. Tapi apakah itu mungkin? Kurasa sama sekali tidak.

Berubah? Tidak yakin. Setidaknya belum. Mengubah model itu amatlah susah. Mengubah pendekatan terhadap masalah sama saja merombak diriku mati-matian.

Jadi aku lumayan putus asa dibuatnya. Kenapa sih tidak ada orang yang bisa memberikan keduanya? Kenapa hanya ada orang yang either memprioritaskan aku tapi tidak menarik, atau bisa membuatku tertarik sedemikian rupa tapi punya prioritas lain dalam hidup? Andai saja pilihannya tidak serumit ini.

Nah, di saat-saat seperti inilah aku merasa bahwa I am so full with myself. Padahal, jika aku zoom out sedikit saja, batang tubuhku sama sekali tidak Nampak di bumi ini (baca: jika dilihat dari pesawat udara). Apalagi jika dilihat dari pesawat luar angkasa.

Kadang manusia memang suka lupa, bahwa di luar sana, ada terlalu banyak hal yang tidak bisa dikontrol. Kehidupan galaksi, bintang-bintang, bahkan miliaran ikan di lautan dan burung di udara tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya. Kita terlalu sering sibuk berpikir bahwa masalah kita begitu rumit sehingga waktu istirahat pun pantas ditunda karenanya. Kita seolah yakin, hari esok akan tiba pada saatnya.

Memang, Tuhan punya janjiNya sendiri. Dan manusia perlu berpasrah sambil berusaha. Tapi sungguh, aku tidak ingin menjadi terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Dengan ketololan pemikiran yang sebenarnya kuciptakan sendiri. Di titik inilah aku perlu belajar berdamai dengan diriku, dengan dunia. Menanamkan dalam otakku bahwa ada banyak hal di dunia ini yang ada di luar jangkauanku. Jadi ada saatnya aku perlu berhenti memikirkan dan mengkhawatirkan segalanya secara berlebihan seperti ini.


Dan bahwa hidup memang tidak selalu mulus. Jadi aku perlu relaks sedikit. Kalau hidup semua orang di muka bumi ini sama, apa kata dunia?

No comments: