Saturday, December 24, 2011

Rebellion: Refleksi Akhir Tahun (Part I & II)

*** I intentionally divide it into different parts so that I will be triggered to finish the whole story***

Pergantian tahun yang tinggal menunggu hari seringkali dimanfaatkan banyak orang untuk dijadikan momen perubahan, momen pembaruan diri, atau hanya sekadar momen berkumpul bersama teman dan keluarga dan menikmati makan malam bersama. Aku bukan orang yang terobsesi untuk membuat resolusi tahun baru, setidaknya tidak separah ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bahkan, aku cenderung tidak lagi menikmati suasana pergantian tahun itu sendiri. Aku mengakui dengan nada datar; bagiku, tanggal satu Januari rasa-rasanya akan menjadi sama tidak istimewanya dengan yang lain. Dan sesungguhnya aku tidak tahu mengapa aku tidak lagi menemukan antusias yang sama. Entah karena suasana hidupku yang memang sedang tidak karuan, atau aku memang telah berubah. Namun, kurasa aku memang telah berubah banyak.

Tahun 2011 memang menjadi titik kulminasi perubahanku. Aku merasakan benar darah anomali yang mengalir di tubuhku kini. Aku merasa berbeda. Bukan karena kulit terang atau mata sipitku, tapi karena aku merasa menjadi manusia baru yang pemikirannya tidak sama seperti orang kebanyakan – tentunya, perbedaannya terletak dalam garis horizontal, dan bukan vertikal. Aku tidak pernah merasa pemikiranku lebih baik dari orang lain. Sama sekali tidak. Aku hanya merasa berbeda, dan aku ingin manusia-manusia lain dapat mengerti dan menghargai perbedaan itu – yang sebenarnya selama ini tidak juga kurasakan, setidaknya oleh orang-orang yang tidak begitu dekat denganku yang terlanjur banyak menghakimiku.

Menjadi pemikir tidak pernah terbayang sama sekali dalam masa kecilku. Memikirkan negara, sistem, masalah sosial, hukum, ataupun politik bukan cita-citaku. Walaupun begitu, hal itulah yang menjadi kebiasaanku sekarang. Aku amat menggemari isu-isu terbaru dari serangkaian masalah nasional maupun internasional yang diekspos media massa. Dan bukan hanya itu, menjadi pemikir liberal yang konservatif juga tidak pernah kucanangkan dalam jurnal-jurnal masa kecilku. Simpel, aku hanya ingin jadi presenter. Bukan pekerja sosial yang ingin mendedikasikan dirinya menjadi pengajar di pelosok hutan. Tapi ternyata, itulah cita-citaku sekarang. Nyata, aku memang sudah berubah.

Aku tahu perubahan itu memakan waktu bertahun-tahun. Dan walaupun banyak yang berubah, aku tetap dengan ketegasan dan kegalakkan yang sama yang turut dirasakan teman-teman terdekatku. Hanya saja, tak pernah sebelumnya aku begitu banyak berpikir tentang hidup, tentang makna seorang manusia, tentang dunia, tentang cita-cita, sebanyak aku memikirkan semua itu saat ini. Aku sibuk mencari detil-detil kecil dalam hidupku, menjadi terlalu peka dan kadang menyulitkan dan mengganggu banyak orang. Tapi itulah aku. Dan aku ingin dihargai walau terlihat berbeda sekali.

Sampai suatu hari aku sadar dan aku ingin menuliskan semua ini – tanpa disadari, kegiatan menulisku juga baru muncul setahun belakangan ini. Dulu kerjaku hanya mengumpat-ngumpat. Walaupun aku masih sering melakukannya, setidaknya aku banyak juga mencurahkan rasa syukur dan kebahagiaanku di blog. Tidak melulu umpatan, walaupun cukup besar jumlahnya. Aku berubah banyak. Dan perubahan itu kurasakan amat signifikan di tahun 2011 ini, tahun yang penuh dengan dinamika hidup, tahun yang jatuh bangunnya sangat menyita energiku. Tahun yang menjadi arena latihanku membangun kepribadian.

***

Harus ditinggalkan oleh orang yang sangat kusayangi kala itu, hatiku terasa perih seolah tidak mampu bangkit lagi melihat hari esok. Beruntung, karena tanpa pernah terpikirkan sebelumnya, aku kemudian mendapatkan beasiswa untuk mengikuti pertukaran pelajar di Singapura, dan kucatat sebagai salah satu peristiwa yang mengubah hidupku seutuhnya.

Selama kurang lebih 5 bulan, aku berkuliah di salah satu universitas negeri terbaik di negeri singa. Aku pun merasa mendapatkan kesempatan untuk menata kehidupanku kembali, setelah porak-poranda karena urusan cinta – yang sebenarnya sepele dan dapat terjadi pada siapa saja. Tapi, kesempatan ini emas bagiku, mengingat sebelumnya aku tidak pernah berada jauh dari orang tua. Emas karena aku selalu mengimpi-ngimpikan hidup di negeri orang dan bertarung mati-matian untuk bertahan. Jadilah aku dengan penuh semangat mengatur dan memutuskan segalanya sendiri selama aku berada di sana, ditemani oleh banyak sahabat-sahabat yang amat luar biasa.

Walaupun aku tak yakin benar apa yang sebenarnya kudapat di Singapura yang mengubah hidupku kian drastisnya, aku tahu wajah-wajah yang membuatku terus menggali potensi dalam diri, dan tak puas atas apa yang kumiliki. Dari banyak mahasiswa mancanegara yang berinteraksi denganku, Min Er, teman sekamar asal Malaysia yang kemudian menjadi sahabat baikku ini adalah salah satu orang yang ikut serta memberikan sumbangsih pada perubahanku. Rasanya terlalu banyak yang dia perbuat untukku. Menjadi Ibu, sekaligus Kakak, dan sahabat sudah terlalu luar biasa bagiku untuk kuceritakan satu persatu.

Begitu banyaknya gejolak kehidupan yang kurasakan di Singapura. Walau kebebasan itu benar adanya kurasakan, sesungguhnya aku masih memiliki masalah yang mesti kuhadapi sendiri. Aku banyak belajar dari orang-orang di sekelilingku. Perbincangan demi perbincangan mendewasakanku. Aku mau belajar untuk tidak menghakimi orang. Aku mau belajar untuk melihat masalah dari banyak sisi. Sahabat-sahabat di sekelilingku, Tanteku yang sedang bergelut melawan kesulitan-kesulitannya, dan teman perjalananku Mariel, membuatku melihat hidup lebih kaya lagi. Membuka mataku akan dunia yang sesungguhnya, dunia yang begitu luas dan belum sama sekali kujamah. Dunia yang patut kujelajahi dan kutaklukkan.

Kisahku di Singapura yang juga diselingi dengan perjalanan sembunyi-sembunyi ke negara tetangga, Malaysia, dilanjutkan dengan perjalanan ke negeri seribu pagoda, Thailand berkontribusi meruntuhkan imunitas tubuhku sehingga aku jatuh sakit keras. Empat penyakit sekaligus menghantam tubuhku. Hepatitis, demam berdarah, typhoid, dan sinusitis. Sepuluh hari di rumah sakit membuat aku harus meredam semua rencanaku untuk magang di perusahaan Public Relations multinasional. Teman dan sahabat berdatangan mengunjungiku, walaupun kedua sahabat yang kutunggu tak kunjung datang bahkan sampai sebulan setelahnya. Namun di situlah aku belajar mengerti dan memaafkan. Di situlah aku belajar bersabar untuk mendapatkan yang lebih baik pada akhirnya. Dan karena sakit itulah aku terdampar di IndoPacific Edelman, perusahaan PR no satu di Indonesia, bahkan di dunia – menurut rating terbaru yang aku pun lupa darimana kudapatkan beritanya.

Di tempat itulah, aku mendapatkan keluarga baru yang di banyak kesempatan mendewasakan aku dan memperkenalkan aku pada dunia kerja yang sesungguhnya. Yang terutama, dunia Public Relations yang sebenar-benarnya, yang selama ini teorinya kupelajari di kelas namun tak pernah kudapat maknanya. Ternyata, aku begitu menyukai pekerjaan baru ini, walau suka sekaligus duka sempat kurasakan di sana, aku berjanji akan kembali suatu hari nanti.

Waktu terus bergulir dan aku kembali memasuki hari-hari sebagai mahasiswa kembali, kali ini di tempat asalku, Universitas Indonesia. Lagi-lagi menjadi mahasiswa komunikasi yang belajarnya setengah-setengah. Aku pun mendaftar ke sana kemari mengisi waktu luang dengan mengajar privat, bimbingan belajar, dan sesekali debat bahasa Inggris. Tidak hanya itu, aku juga bekerja serabutan jika ada tawaran sebagai juri lomba debat ataupun kegiatan lainnya.

Aku pun kembali bergaul dengan teman-temanku, yang sebenarnya kurasakan mulai berubah. Ketie tetaplah Ketie yang dulu. Fany pun begitu. Tapi Jovi, hmmmm, kurasa dia terlalu banyak ikut kontes-kontes kecantikan. Namun yang sesungguhnya berubah adalah aku. Aku sadar aku tidak lagi mau ikut-ikutan mereka nongkrong selepas kuliah hanya untuk bercanda tawa bertukar gosip sejenak. Aku justru menghindari semua kegiatan itu. Aku lebih memilih berdua di kost Ketie sambil membahas pelajaran dan masalah-masalah yang menimpa kami. Dan dari sanalah aku tahu kalau aku bukanlah Gadis yang sama lagi.

Jadi terlampau rasional aku ini, atau kalau dalam term Ayu Utami, aku adalah korban modernitas. Segala hal akan kutelaah tujuannya. Jika bukan untuk tujuan yang jelas dan pasti, aku tidak akan mau membuang-buang waktu untuk melakukannya.

Disiplin dengan waktu menjadi sloganku. Aku tak mau sama sekali buang-buang waktu. Apapun yang bisa kukerjakan sekaligus, pasti akan kulakukan. Kalau masalah ini, aku yakin Singapura penyebabnya.

Kedekatanku dengan si dia juga turut mempengaruhi turun naiknya mood. Aku gampang sekali bahagia, dan mudah sekali cemberut. Karena aku adalah orang yang ekspresif, tentunya semua orang akan langsung sadar begitu aku berekspresi sedikit saja. Dan sejujurnya, aku bukan orang yang pandai bermain peran. Setidaknya dalam hidupku sendiri.

Dia pun akhirnya kembali ke tempat asalnya. Dan kian hari kian menghilang tak terdengar kabarnya, walaupun pada awalnya kita berhubungan hampir setiap hari. Aku sempat mencurahkan segala perasaanku padanya – sebuah perbuatan tolol yang kadang kusesali kini – dan tidak mendapatkan tanggapan apapun. Orang ini sudah dengan sangat semena-mena masuk dan menghancurkan hidupku, dan aku tak tahu kenapa aku masih begitu tertarik padanya.

Well, mungkin aku tahu mengapa. Karena dia adalah orang pertama – atau lebih tepatnya satu-satunya orang – yang tidak pernah menanyakan apa-apa kepadaku. Tidak kesukaanku, tidak juga kebencianku. Tapi hanya dia yang mampu mengetahui isi hatiku yang terdalam. Kepribadianku yang selama ini kusembunyikan dari orang-orang luar. Bahkan teman-teman terdekatku pun, tak kujamin bisa berceloteh mengenai kepribadianku sehebat dirinya – apalagi tanpa bertanya, dan tanpa menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengenal aku. Dan jadilah aku merasa aku jatuh cinta padanya. Sayang, aku hanya jadi korbannya yang kesekian kali. Korban yang ditinggalkan begitu saja tanpa aba-aba, atau tanpa kejelasan yang pasti. Saat ini, mengucapkan selamat natal pun tidak, jika tidak aku mengucapkannya duluan. Dan dengan bodohnya, aku merasa tak ada orang yang mampu menggantikannya.

Beberapa waktu berselang setelah aku memutuskan tidak ingin lagi berhubungan dengannya (yang terkadang gagal karena setiap dia menghubungiku, aku tak kuasa menolak), aku terpilih untuk meng-handle satu proyek tahunan di fakultas, yang membuatku harus mengucapkan kata-kata perpisahan dengan kemungkinan pertukaran pelajar di negeri Paman Sam. Dan sejak saat itu pun, hidupku menjadi cukup runyam.

Karena aku kembali jatuh sakit. Dua minggu lamanya harus beristirahat di rumah dan merenggut semua kesempatan-kesempatan gemilang dalam hidupku untuk belajar. Kali ini karena tifus. Tiga kesempatan untuk bekerja dan mendapatkan uang melayang. Aku juga ditolak magang di sebuah perusahaan ritel ternama. Dan berbagai kesulitan lainnya, yang membuatku hampir putus asa. Tapi lagi-lagi penyakit membuahkan hasil. Aku lolos wawancara untuk bekerja di sebuah PR Agency kecil-kecilan yang membutuhkan writer. Selain aku bisa mengasah kemampuan menulis, aku bisa turut mengembangkan potensi di dunia Public Relations. Tentunya itu sangat menyenangkan untuk orang seperti aku.

Penyakit itu menyadarkan aku bahwa tubuhku tidak sekuat dulu, menambahkan segi kekuranganku leibh lagi. Aku pun memutuskan segala hubungan kerja di bidang pendidikan alias mengajar. Satu-satunya fokus ku hanya kuliah, proyek itu, dan pekerjaan itu. Aku tahu itu bukan satu. Tapi bagiku, itu cukup. Tidak kurang dan tidak lebih. Dan aku sangat berharap semuanya dapat berjalan lancar.

***To Be Continued***

No comments: