Saturday, December 17, 2011

Biggest Thanks to Alda


Having somebody to talk to, to share some love and respect mean seriously a lot to me. Alda is not only a best best friend, she's like a family. She always inspires me to live life with integrity and face everything with smile and spirit. I can't find any way to thank you, Alda, for being such a wonderful friend :) The sleepover was great. The help was great. I miss you already now :p

Lots of love,
Gadis

Monday, December 12, 2011

Alda Dear :)

Two meaningful hours with Alda @ Starbucks Metropolitan II

Whatever happens, I hope our friendship never ends.

Xoxo,
Gadis.


Saturday, December 10, 2011

Do I Really Believe in Jesus?

I guess the bed rest time I spent at home has brought a lot of questions I have wanted to clarify within myself up, one of which is that title of the post. It would have been a lie that I feel comfortable claiming myself as Christian nowadays. In fact, I admit losing my chemistry with my One and Only God, the true redeemer, the King, Jesus Christ for couple of months. I no longer went for church, only once in a while, no longer jotted some words down, or had some daily bread over days. And all that due to the missing chemistry, which I also am not certain about.

Hence, the question is there and it is inevitable. I got to answer it, truly by what resides within my heart. And thanks to Mom, although we were in cold war for several days, we just had a lengthy and meaningful discussion that fruitfully opened my eyes. If it weren’t because of my mom, who has spent 25 years working in the same company, which failed to appreciate her dedication and loyalty, I would have not realized what kind of person I am today.

It was started when I asked her, why she would stay in such prickly environment where her boss sucks to the fullest extent and her colleagues are scumbags. And it also came to my amazement that she chose to stay living with unappreciative husband who seem like losing his love to this woman and dragging children with all ups and downs. She stays. She chose to stay despite the whole wretched situation she is facing and that is unbelievable. And only because of that I realized that I do not have the same level of perseverance like she does, not even close. I would rather quit whenever I feel like I am facing a dead end over some problems, or at the very least look for other doors instead of staying and keep on struggling. Gosh, I hate waiting. Really, really hate it.

I realize I am impatient, very if I am allowed to say. And the only answer my mom provided was, “Because I still have hope”. Yeah, she did say that. She said she still have the hope that someday everything is going to be all right. That answer took my breath away. That explains why I stopped on doing things I like, or explains why I keep on worrying what is going to happen tomorrow when I don’t work and do not have steady income. I do not have hope for betterment. It became even clearer when I discussed this with my sister.

Her only words were, "You just don't appreciate progress. That's it. It has nothing to do with God. You still believe in God, yeah probably you were more to Agnostic than Christian. But you still believe in Him. The only thing you don't believe is the progress. You are result-oriented."

I still insisted this was related to Christianity because hope and faith are the symbols of our belief. As long as you have hope, you have faith, then you are indeed still in His way. And that is something I don't have. Or in my sister term, I do but I do not grow it. I put it aside, let it be there and do nothing about it. Nothing is wrong, but hope and faith without efforts to grow it, would be meaningless. And yes, that is true. That left me with another contemplation.

Since my sister always comes with analogy every time we talk, this time she symbolize my condition with a plant representing my faith to God. I never water the plant, nor nurture it with adequate nutrition. No wonder it doesn't grow. In fact, it almost die. So her only advice is, go think about it. Nurture it your way.



***Will think about it for a while.


Friday, December 9, 2011

One Way or Another

I miss Singapore. Even though I have spent most times at home due to my sickness, I still feel frustrated, probably because all the obligation I still need to fulfill. It has been overwhelming, really. I feel like I need some me time, free from all these stuffs, when I can enjoy eating and traveling. And I prefer Singapore this time.

Europe presumably the place I really really want to visit, but is not possible for the meantime. So I would just visit Singapore and have fun. And I don't know whether to go alone or with buddy. Well, I don't have any boyfriend to ask so...

Thursday, December 1, 2011

Carrot Cake Sensation

As always, I want to express my gratitude to my best best friend, Jerry who happened to visit me in time of my sickness, bake my favorite cake of all times – carrot cake, and cheer me up with our chit chat for the rest of the night. It is always wonderful to have sweetest friend like you. Again, many many thanks for the support and endeavor to screw the traffic jam and rain to come here.

Cheers,

Gadis

Anak Semua Bangsa

Ini adalah sisi lain dari review terdahulu yang kubuat untuk Anak Semua Bangsa: review yang sempat kubuat, menghilang, dan kini ditemukan kembali.


“Dulu suatu bangsa bisa hidup aman di tengah-tengah padang pasir atau hutan. Sekarang tidak. Ilmu pengetahuan modern mengusik siapa saja dari keamanan dan kedamaiannya. Juga manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai individu tidak lagi bisa merasa aman. Dia dikejar-kejar selalu, karena ilmu pengetahuan modern memberikan inspirasi dan nafsu untuk menguasai: alam dan manusia sekaligus. Tak ada kekuatan lain yang bisa menghentikan nafsu berkuasa ini kecuali ilmu-pengetahua nitu sendiri yang lebih unggul, di tangan manusia yang lebih berbudi….”

Untuk kedua kalinya, Pramoedya Ananta Toer berhasil merasuki arwahku melalui Anak Semua Bangsa, di mana beliau memutarbalikkan semua pemikiran yang kusimpan selama ini, lewat cerita Minke dan perjuangannya sebagai pribumi di Hindia Belanda.

Pram memang mengakui pentingnya ilmu pengetahuan sebagai titik tolak kemajuan sebuah bangsa, bahkan kemerdekaan suatu negara pun ditentukan karena kuasa atas ilmu pengetahuan. Namun, di sisi lain, beliau menunjukkan betapa sia-sia ketika kita sibuk membanggakan bangsa Eropa sebagai sang empunya peradaban, namun tak mengenal bangsa sendiri. Tentunya, kemerdekaan menjadi mimpi semu yang tak mungkin dapat direalisasikan. Itulah mengapa, Pram mencatat, ”Maka jangan harapkan pendidikan modern akan diberikan di negeri-negeri jajahan seperti negeri ini. Hanya bangsa jajahan sendiri yang tahu kebutuhan negeri dan bangsanya sendiri. Negeri penjajah hanya akan menghisap madu bumi dan tenaga bangsa jajahannya. Dibolak-balik akhirnya kaum terpelajar bangsa jajahan sendiri yang perlu tahu kewajibannya.”

Sayangnya, ilmu pengetahuan yang didapat dari Eropa, maupun pengenalan akan bangsa sendiri takkan cukup menentang musuh yang satu ini. Musuh yang telah menjelma menjadi banyak bentuk, bahkan menyamar dalam karakter yang baik seperti Politik Etis Van Deventer. Ya, musuh itu adalah modal, sesuatu yang mujarad, abstrak, punya kekuasaan gaib atas benda-benda nyata. Semua yang menyebabkan segala yang berpencaran berkumpul, yang berkumpul berpencaran, yang cair jadi beku, yang beku dicairkan. Segala berubah bentuk dalam genggamannya. Yang basah dia bikin kering yang kering jadi basah. Dewa baru yang mengepal seluruh dunia. Membosankan memang, tapi nyata. Produksi, dagang, tetesan keringat, angkutan, hubungan, saluran – dan tak ada satu orang pun dapat bebas dari kekuasaan, pengaruh, dan perintahnya. “Dan, Tuan Minke, cara berpikir, cita-cita, dibenarkan atau tidak, direstui atau tidak olehnya juga.”

Bahkan ternyata sejak tahun 1980, di mana Pram menorehkan karyanya ini di atas kertas, kekuatan modal telah membelah dunia dan membawa kaum kolonial menjelajah bumi – merasuki nuraninya untuk membuka wawasan, untuk mengetahui dan membongkar semua itu dalam tulisan. Mengagumkan, apa yang ia lakukan. Benar-benar membuka mataku yang selama ini gelap karena miskin ilmu pengetahuan.

Dan akhirnya, buku ini menekankan pentingnya penghargaan bagi siapapun juga, apapun latar belakangnya – apalagi warna kulitnya, seperti yang dituliskannya, “Dengan rendahhati aku mengakui: aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat.”



Catatan: Anak Semua Bangsa adalah buku kedua dari tetralogi Buru, lanjutan dari Bumi Manusia yang dulu sempat kutulis resensinya di sini.

Gadis Pantai

Kekuasaan selalu menyilaukan banyak mata, dan tanpa basa-basi mendorong manusia berjibaku memperebutkannya pula. Betapa hebat dan megahnya kekuasaan itu digambarkan Pramoedya Ananta Toer di jaman kala priyayi-priyayi Jawa memilikinya. Mereka, yang berkedudukan sebagai pembesar, berkuasa untuk mengangkat siapapun menjadi istrinya, dan menceraikannya ketika tak lagi meminati mereka. Mereka (yang telah menikahi perempuan-perempuan tadi) berkuasa mengakui diri mereka sebagai perjaka selama belum beristrikan wanita bangsawan yang setidaknya setara kedudukannya. Kekuasaan yang tidak sedikit pun peka dengan konsep kemanusiaan. Nyatanya, suka ataupun tidak, itulah fakta yang harus ditelan sahaya-sahaya Jawa di waktu silam. Hidup mereka tak lebih dari sekedar budak yang bisa ditendang kapan saja. Nantinya pun, perempuan yang diangkat jadi istri takkan lebih nasibnya daripada sekadar barang rongsok yang ditinggalkan. Itulah nasib Gadis Pantai, sang pelaku utama dalam novel yang bertajuk namanya sendiri.

Kedua orang tuanya menyerahkan Sang Gadis pada usia empat belas tahun, rentang usia di mana tak terbersit keinginan di hatinya yang selama ini bebas laksana ikan di lautan untuk menghambakan dirinya pada seorang Bendoro. Sebelumnya merasa terjebak dan tak kuasa menahan hati yang ingin pulang ke laut tempatnya bernaung bersama Emak Bapaknya, perempuan pun tak berdaya menahan asa. Kecemburuan pertanda cinta merasuki dirinya, membuatnya mengasihi Sang Bendoro. Meski begitu, bayi perempuan yang dilahirkannya tak mampu membuat pembesar senang, sehingga diusirnyalah Gadis Pantai dari kerajaannya, tanpa boleh membawa anak satu-satunya. Merasa tak mampu kembali ke kampung halamannya, Sang Gadis pun bertolak ke Blora dan hilang seakan tak pernah muncul ke dunia.

Cerita yang tragis ini membuat hatiku ingin menjerit melihat ketidakadilan selalu tercipta akibat kekuasaan yang semena-mena. Apakah Sang Bendoro bukan manusia karena tega melihat ibu dipisahkan dari anaknya? Apakah iya rasa empati belum ada pada waktu itu? Dan apa pula yang dipikirkan orang tua Gadis Pantai ketika menyerahkan anaknya kepada Pembesar? Apakah mereka sebegitu hausnya akan kekuasaan? Atau karena mereka terlalu mencintai anaknya dan tak rela anaknya besar sebagai nelayan layaknya mereka?

Kurasa ada terlalu banyak hal yang tidak bisa kuterima. Aku tidak dapat menangkap alasan mengapa sebuah tradisi melanggengkan sesuatu yang tidak berperi-kemanusiaan macam itu. Keji dan biadab ketika laki-laki, atau siapapun itu, diberikan kesewenangan untuk berbuat apa yang ia mau dan menjadikan perempuan sebagai hambanya di rumah, berkutat hanya dengan urusan domestik tanpa boleh banyak bertanya. Ketika sang lelaki pergi, itu pasti adalah untuk urusan kerja, sehingga tak perlu usaha lebih untuk bertanya, selain karena hal itu dianggap lancang. Satu-satunya hal yang boleh dikerjakan hanyalah menurut perintah suaminya, sang empunya kuasa, sekalipun perintah itu berarti meninggalkan anaknya tanpa masa depan yang pasti. Apakah ini adil? Mengapa pembedaan itu ada? Bukankah itu tidak peka, bahkan terhadap hubungan suami-istri sekalipun? Namun itu nyata adanya, dan begitulah yang harus terjadi. Dan itulah yang diperangi manusia-manusia modern macam aku ini: persamaan derajat. Bukan yang radikal, hanya berusaha menuntut hak yang sama, termasuk pendidikan.

Untungnya, dunia modern ini ada baiknya, walaupun banyak juga dikritisi orang. Setidaknya ada usaha untuk menyamakan derajat kaum wanita dan pria sehingga aku bisa menyuarakan pendapatku, tidak diam, membungkuk sampai beberapa radius meter dan baru berdiri setelahnya hanya untuk berpamit kepada lelaki. Tentunya, itu ketidakadilan yang tak mampu kuterima. Sampai kapanpun tidak. Siapapun, tidak diciptakan untuk menjadi budak siapapun. Kita semua adalah manusia merdeka. Walaupun aku juga percaya bahwa di dunia ini selalu ada yang miskin dan kaya, baik dan jahat, cantik dan buruk rupa, tapi sekiranya kita adalah manusia merdeka yang berhak bicara.

Pramoedya pun menyemangati dengan kata-katanya yang kucatat demikian.

“Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pangeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran, dan para bupati. Satu turunan tidak bakalan selesai, Man. Kalau para raja, pangeran, dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu musti dimulai.”

Kita tidak pernah tahu berapa lama kita butuhkan untuk melawan kekuasaaan yang sewenang-wenang. Tapi kita tidak lagi bisa menunggu. Harapan pasti ada, karenanya usaha harus berjalan.