Tuesday, October 25, 2011

Geeky

Aku hanya haus akan ilmu. Aku hanya merasa tidak punya modal yang cukup untuk bersolek (tentunya bersolek dalam definisiku). Aku tak mau berlagak banyak tingkah selama aku tidak punya kapasitas otak yang cukup. Dan mungkin itu yang mendorongku menjadi seperti sekarang ini. Jujur saja, aku baru sadar hari ini. Aku sadar kalau aku seorang geek. Geek versi modern, yang tidak lagi melulu masalah kacamata tebal berbingkai sama tebal, polo shirt berkerah yang terkancing hingga pangkal leher, atau jinjingan buku di pelukan kemanapun melangkah. Bukan, aku bukan geek semacam itu. Aku geek varietas baru, yang tak mau bercengkrama atau bercanda tawa selepas kuliah, atau sekadar kongko-kongko dengan teman sebaya membahas gosip kawan baru maupun lama. Bisa dihitung dengan jari tangan kiriku, kala aku benar-benar punya waktu untuk itu semua. Aku lebih memilih tak dengar kabar terbaru mengenai apapun, tetapi langsung pulang untuk mengajar atau mengerjakan sambilan pekerjaan. Aku juga akan memprioritaskan waktu baca buku roman kesukaanku di akhir minggu, daripada bergaul ke pusat-pusat perbelanjaan Ibukota dengan kawan sejawat.

Tanpa selama ini kusadari, aku memang geek. Dan itu kusadari hari ini, seusai berbincang dengan Fany Nasution di kala membantunya menempel poster untuk acara departemen kami. Kupikir, selama ini hidupku normal, hanya idealis, walaupun seringkali juga berusaha realistis. Aku hanya suka belajar. Karena aku cinta mengajar. Aku hanya mau mengerjakan apa yang kurasa berharga untuk masa depanku. Dan aku memang terfokus pada hal-hal besar yang signifikan, dalam kamusku tentunya, yang kesemuanya bertolak belakang dengan prinsipnya.

Malu sebenarnya, dibilang geek, secara term itu selama ini berkonotasi negatif, menggambarkan orang yang cenderung out of date, ketinggalan zaman, tidak pandai bergaul, kutu buku.

Tidak malu juga sebenarnya, karena toh aku bukan tipe orang yang peduli apa kata orang, kecuali sahabat-sahabat terdekat.

Tapi tetap saja. Hal ini merasuki pikiranku sampai aku memutuskan untuk menulis sesuatu tentangnya.

Salahkah aku selama ini, jika begitu yang benar terjadi?

No comments: