Tuesday, October 25, 2011

Bumi Manusia


Membaca Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer membuka mata saya akan kecintaan terhadap sastra. Selama ini tak pernah terbersit di kepala untuk membaca roman yang mengambil latar di zaman penjajahan Belanda, kala pemisahan Totok, Indo, dan Pribumi begitu kental dan kejamnya. Ya, Pram mengisahkan seorang Pribumi yang beruntung dapat bersekolah di lembaga pendidikan Eropa karena darah birunya. Diceritakan pergelutan seorang Indonesia yang punya semangat besar untuk belajar, menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pegangan keberhasilan. Dan Eropa, sebagai kiblat ilmu pengetahuan kemudian dipersepsikan sebagai pusat peradaban yang agung. Benar adanya demikian. Namun ternyata halaman-halaman berikutnya mengangkat bagaimana bangsa kulit putih itu telah menginjak-injak apa yang selama ini mereka ajarkan lewat pendidikan, ketika ketidakadilan mereka ciptakan dan lestarikan di bumi pertiwi ini. Minke, si aktor utama itu dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa Annelies, orang Indo yang selama ini dinikahinya di bawah hukum Islam, atas peraturan bangsa dari utara tersebut. Dari sinilah saya merasa tertegun, seakan ditegur oleh ulasan-ulasan beliau.

Nasib saya kurang lebih layaknya Minke. Selama ini saya banyak memberikan pujian kepada bangsa Eropa akan segala kehebatan yang dimilikinya. Inggris dan kekuatannya menaklukan dunia, adalah salah satu bagian yang takkan pernah saya lupakan. Saya begitu mengidam-ngidamkan Eropa, sampai-sampai rasanya banyak menyumpah kasar kepada tanah yang saya diami ini. Terlalu banyak, sesungguhnya terlalu banyak hal yang saya anggap "baik" untuk dicontoh dan dimiliki negara ini. Namun pada akhirnya semua miliki kekurangannya masing-masing. Bangsa yang besar dan mega kuasa itu bukanlah jawaban dari semua persoalan. Karena masing-masing punya persoalan masing-masing. Kelebihan dan kelemahan masing-masing.

***

Bumi Manusia, menjelaskan betapa peliknya kehidupan manusia yang diliputi oleh tangis dan air mata, dan tanpa terkecuali perjuangan. Dan itulah yang sengaja ditonjolkan oleh Pram karena beliau percaya bahwa "Cerita, ...., selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa, atau dewa, atau hantu. dan tak ada yang lebih sulit dipahami daripada sang manusia.... jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar pengelihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cuku, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-ratap kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput."

Ada terlalu banyak kata untuk menggambarkan kecintaan saya pada novel ini. Novel yang benar-benar menarik hati untuk terus membaca dan membalik halaman demi halaman. Pram banyak mengajarkan hal tentang hidup, tentang menulis, tentang mencari dan mengamalkan ilmu. Satu kata: bravo.

Satu lagi kalimat yang melekat di kepala adalah bahwa "Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan," mengajarkan kebijaksanaan yang sesungguhnya. Kebijaksanaan yang pantasnya dimiliki seorang intelektual.

1 comment:

Anonymous said...

Aku baru baca buku ini bulan lalu, padahal udah sering dengar, telat banget. Tapi gak menyesal, lebih baik telat daripada nggak sama sekali. Setuju, bukunya bagus banget. Dan aku barusan browsing, ada berita mira Lesmana dan Riri Riza mau memfilmkan buku ini. Wah, senangnyaaa...pas aku baca bukunya, kepikiran juga, wah buku ini harus difilmkan, ternyata... Aku sekarang baca buku ketiga dari tetralogi Pramoedya - Footsteps. Review mu oke! Aku bacanya senang, aku mau share yah :)