Wednesday, April 18, 2012

Filosofi Kopi

Sepuluh tahun pergulatan Dewi “Dee” Lestari menjadi penulis di tengah kesibukannya bermusik akhirnya termunculkan dalam Filosofi Kopi, yang berisikan kumpulan prosa dan cerita yang dipaparkannya secara ringan namun tajam, jujur namun menyentuh. Uraian-uraian mengenai emosi yang begitu manusiawi terbaca lewat karyanya ini.

Aku bukan siapa-siapa untuk menilai, tapi melihat tulisan-tulisannya, aku merasakan adanya pencarian jati diri yang sesungguhnya dalam jiwa Dee. Dia mencari bentuk, rupa, dan aroma yang tepat bagi hasil pemikirannya yang kemudian dituangkannya dalam karya demi karya.

Kekuatan yang kutemukan dalam tulisannya terletak pada daya imajinasi yang begitu intens terasa, yang kemudian dibuatnya bersinergi dengan kemampuan Dee menerjemahkan setiap imajinasi ke dalam metafora, yang dapat ditangkap panca indra dan emosi manusia. Tidak hanya itu, Dee juga mampu menciptakan benang merah dari metafora-metafora yang dilahirkannya. Kekuatan inilah yang membuatnya berdiri tegak di arus kesusasteraan Indonesia dewasa ini.

Filosofi Kopi memberikan seberkas cahaya baru tentang pergumulan manusia di tengah himpitan zaman yang semakin menjadi-jadi.

Monday, April 16, 2012

Musuh Bernama Perasaan

Begitu hebatnya perasaan bisa mengatur hidup manusia, atau hidupku lebih tepatnya. Keperkasaannya mampu menjatuhkan aku ke dalam lubang terdalam, tetapi juga sanggup mengangkat aku melampaui angkasa luar. Hidupku dipermainkannya. Aku dipermainkannya.

Aku guncang setiap kali dihunus tajam barang setitik saja. Aku rapuh kala ditampar dalam sekerjap mata. Pun mendadak euphoria ketika dipuji barang sekata.

Kebencian itu ada, hasil persetubuhan kepala dengan rasionya. Benci aku pada perasaan ini. Benci pula pada diriku sendiri. Aku dipermalukan olehnya. Aku disudutkan olehnya berkali-kali. Nyata.

Ingin rasanya kulempar jauh-jauh perasaan ini. Tapi apa artinya manusia tanpa perasaan? Apa bedaku dengan binatang? Tapi mengapa terus merongrong tanpa henti? Mencabik-cabik tubuh yang lemah dan terus menancapkan duri?

Perih. Sakit. Pedih. Pahit. Semuanya bercampur aduk mengendalikan diri saat ini.

Kenapa hanya aku yang begini? Kenapa tidak manusia lain? Kenapa tidak laki-laki yang tak berperasaan itu?

Aku ingin berkelit. Berlari jauh mencari perlindungan. Tapi kemana?

Thursday, April 12, 2012

Masa Depan ?

Tidak habis-habis rasanya, pertanyaan-pertanyaan yang muncul setiap harinya. Bukan pertanyaan biasa, tetapi pertanyaan akan tujuan hidup saya yang sebenarnya. Sejujurnya, setiap pagi yang saya lewati dianugerahi secercah harapan untuk menemukan tujuan hidup saya hari itu. Tetapi hari demi hari pun berlalu, meninggalkan sekelumit pemikiran yang bergumpal layaknya benang kusut. Hari berpindah, pertanyaan tetap tinggal pada tempatnya. Bertambah, dan semakin menumpuk saja.

Hari ini pun demikian. Pula hari-hari kemarin. Diskusi-diskusi yang terlewat bersama kekasih semakin merongrong batin dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang terlupa. Belum lagi para sahabat juga menekan saya dengan halus dan tanpa sengaja untuk merenungkan pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Galau, terlalu malah. Ingin rasanya memberontak dan memecahkan segala. Tapi buat apa? Buat jawaban atas sesak di dada? Tampaknya takkan ada hasilnya.

Merenung? Bertapa? Kurangkah permenungan saya selama ini? Kurangkah pergumulan hati saya di waktu yang telah lalu? Mengapa tak saya temukan juga sebuah jalan yang ingin kutuju? Dengan lubang-lubang yang pasti saya lalui dan perbukitan yang pasti saya daki? Meski dengan kepedihan hati yang juga pasti?

Perasaan ini telah merasuki saya. Jauh, sejak dulu. Sejak ratusan, bahkan ribuan hari yang lalu. Saya tidak punya keyakinan. Tidak, atas diri saya sendiri. Saya merasa payah. Apa yang saya punya dan dapat saya banggakan pada orang? Apa yang bisa saya tekuni hingga saya dapat merasa bahagia? Mau dibawa kemana hidup ini? Maukah berlari mengitari lorong yang sama terus-menerus? Maukah mengepakkan sayap ke pegunungan asing? Saya jalan di tempat. Sejak dulu. Tanpa tahu apa dapat saya lakukan bagi bangsa ini.

Idealisme ada. Ide pun tak kalah. Tetapi mengapa tak kunjung juga keyakinan itu datang? Tidak juga keragu-raguan itu hilang? Akankah esok jadi esok yang sama? Sampai kapan?


Akankah angin bertiup dan membisikkan sejumput kata-kata manis? Ataukah bilur perih justru datang lagi dan lagi?

Tuesday, April 10, 2012

Demotivated

All of sudden, I feel demotivated to do anything. Began to think that none of what I did matters anymore, although without any proper reasons. I am just so much demotivated. List of my current and potential activities in front seems overwhelming. Even, it fogs up my mind. Am I doing the right thing in life? Am I good enough? Am I worthy enough?

Thursday, April 5, 2012

Thank You

Praise to God for all the blessings I got. I know You are there. Thank You. Thank You.
I know it would not be enough, especially with the misconducts I did.
But I want to thank You for the endless love.

Cerita Cinta Enrico


Tidak pernah habis rasa kagum saya membaca tulisan Ayu Utami. Halaman demi halaman terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja. Setiap katanya memberikan kesan yang amat mendalam di dalam lubuk hati. Terlebih dari itu, saya menangkap kesamaan dari tulisan beliau dengan almarhum Pramoedya Ananta Toer, yang juga salah satu tokoh inspirasional idola saya, terutama ketika Ayu berusaha mengangkat kritiknya terhadap peristiwa sejarah yang melingkupi hidupnya dan memperlihatkan permukaan sejarah dari wajah yang berbeda.

Enrico tumbuh dalam situasi pergerakan sejarah Indonesia melawan intrusi Barat di tanah air, diceritakan menghadapi berbagai kemelut hidup dan kerasnya kehidupan. Secara gamblang Ayu mengungkapkan betapa didikan orang tua dan lingkungan mempengaruhi perkembangan seorang anak, remaja, pemuda, hingga akhirnya menjadi orang dewasa yang sama sekali berbeda. Di sinilah saya bisa merasakan betul kejujuran Ayu dalam menampilkan realitas hidup yang tak banyak disadari manusia modern zaman sekarang. Kemahirannya menggambarkan setiap suasana dengan penuh nuansa emosional, terutama kala Enrico mengalami pergumulan dengan keminoritasannya, dengan agama, dengan kasih terhadap ayahnya, maupun kekecewaan kepada ibunya, benar-benar menusuk dinding-dinding hati saya.

Nilai-nilai yang dianut Ayu dalam hidup selalu terpatri dalam setiap tulisannya, baik implisit maupun eksplisit. Tetapi itulah yang selalu menjadi bahan perenungan atas kekaguman saya pada beliau. Karena beliau selalu membuat saya membutuhkan waktu untuk sendiri, melihat ke kedalaman hati untuk tahu apakah apa yang saya percayai telah benar, apakah saya berbuat hal yang benar dalam hidup, namun yang terpenting, apakah telah cukup otak saya berputar dan berpikir mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terlontarkan? Karena saya yakin, seluruh pergumulan hidupnya lah yang membuatnya "kaya" akan begitu banyak pengetahuan dan pemikiran-pemikiran hebat.

Perempuan ini begitu cerdas dan menginspirasi. Profisiat. Salut.


*PS: Terima kasih Hasti Triana Putri untuk bukunya :)

Sunday, April 1, 2012

Rindu

Belum tepat sehari tak bertemu denganmu. Namun gelisah sudah terasa.
Sekaligus berbunga-bunga. Semoga untuk selamanya.