Wednesday, April 18, 2012
Filosofi Kopi
Monday, April 16, 2012
Musuh Bernama Perasaan
Begitu hebatnya perasaan bisa mengatur hidup manusia, atau hidupku lebih tepatnya. Keperkasaannya mampu menjatuhkan aku ke dalam lubang terdalam, tetapi juga sanggup mengangkat aku melampaui angkasa luar. Hidupku dipermainkannya. Aku dipermainkannya.
Aku guncang setiap kali dihunus tajam barang setitik saja. Aku rapuh kala ditampar dalam sekerjap mata. Pun mendadak euphoria ketika dipuji barang sekata.
Kebencian itu ada, hasil persetubuhan kepala dengan rasionya. Benci aku pada perasaan ini. Benci pula pada diriku sendiri. Aku dipermalukan olehnya. Aku disudutkan olehnya berkali-kali. Nyata.
Ingin rasanya kulempar jauh-jauh perasaan ini. Tapi apa artinya manusia tanpa perasaan? Apa bedaku dengan binatang? Tapi mengapa terus merongrong tanpa henti? Mencabik-cabik tubuh yang lemah dan terus menancapkan duri?
Perih. Sakit. Pedih. Pahit. Semuanya bercampur aduk mengendalikan diri saat ini.
Kenapa hanya aku yang begini? Kenapa tidak manusia lain? Kenapa tidak laki-laki yang tak berperasaan itu?
Aku ingin berkelit. Berlari jauh mencari perlindungan. Tapi kemana?
Thursday, April 12, 2012
Masa Depan ?
Tidak habis-habis rasanya, pertanyaan-pertanyaan yang muncul setiap harinya. Bukan pertanyaan biasa, tetapi pertanyaan akan tujuan hidup saya yang sebenarnya. Sejujurnya, setiap pagi yang saya lewati dianugerahi secercah harapan untuk menemukan tujuan hidup saya hari itu. Tetapi hari demi hari pun berlalu, meninggalkan sekelumit pemikiran yang bergumpal layaknya benang kusut. Hari berpindah, pertanyaan tetap tinggal pada tempatnya. Bertambah, dan semakin menumpuk saja.
Hari ini pun demikian. Pula hari-hari kemarin. Diskusi-diskusi yang terlewat bersama kekasih semakin merongrong batin dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang terlupa. Belum lagi para sahabat juga menekan saya dengan halus dan tanpa sengaja untuk merenungkan pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Galau, terlalu malah. Ingin rasanya memberontak dan memecahkan segala. Tapi buat apa? Buat jawaban atas sesak di dada? Tampaknya takkan ada hasilnya.
Merenung? Bertapa? Kurangkah permenungan saya selama ini? Kurangkah pergumulan hati saya di waktu yang telah lalu? Mengapa tak saya temukan juga sebuah jalan yang ingin kutuju? Dengan lubang-lubang yang pasti saya lalui dan perbukitan yang pasti saya daki? Meski dengan kepedihan hati yang juga pasti?
Perasaan ini telah merasuki saya. Jauh, sejak dulu. Sejak ratusan, bahkan ribuan hari yang lalu. Saya tidak punya keyakinan. Tidak, atas diri saya sendiri. Saya merasa payah. Apa yang saya punya dan dapat saya banggakan pada orang? Apa yang bisa saya tekuni hingga saya dapat merasa bahagia? Mau dibawa kemana hidup ini? Maukah berlari mengitari lorong yang sama terus-menerus? Maukah mengepakkan sayap ke pegunungan asing? Saya jalan di tempat. Sejak dulu. Tanpa tahu apa dapat saya lakukan bagi bangsa ini.
Idealisme ada. Ide pun tak kalah. Tetapi mengapa tak kunjung juga keyakinan itu datang? Tidak juga keragu-raguan itu hilang? Akankah esok jadi esok yang sama? Sampai kapan?
Akankah angin bertiup dan membisikkan sejumput kata-kata manis? Ataukah bilur perih justru datang lagi dan lagi?
Tuesday, April 10, 2012
Demotivated
Thursday, April 5, 2012
Thank You
Cerita Cinta Enrico

Sunday, April 1, 2012
Rindu
Sekaligus berbunga-bunga. Semoga untuk selamanya.
