Thursday, April 12, 2012

Masa Depan ?

Tidak habis-habis rasanya, pertanyaan-pertanyaan yang muncul setiap harinya. Bukan pertanyaan biasa, tetapi pertanyaan akan tujuan hidup saya yang sebenarnya. Sejujurnya, setiap pagi yang saya lewati dianugerahi secercah harapan untuk menemukan tujuan hidup saya hari itu. Tetapi hari demi hari pun berlalu, meninggalkan sekelumit pemikiran yang bergumpal layaknya benang kusut. Hari berpindah, pertanyaan tetap tinggal pada tempatnya. Bertambah, dan semakin menumpuk saja.

Hari ini pun demikian. Pula hari-hari kemarin. Diskusi-diskusi yang terlewat bersama kekasih semakin merongrong batin dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang terlupa. Belum lagi para sahabat juga menekan saya dengan halus dan tanpa sengaja untuk merenungkan pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Galau, terlalu malah. Ingin rasanya memberontak dan memecahkan segala. Tapi buat apa? Buat jawaban atas sesak di dada? Tampaknya takkan ada hasilnya.

Merenung? Bertapa? Kurangkah permenungan saya selama ini? Kurangkah pergumulan hati saya di waktu yang telah lalu? Mengapa tak saya temukan juga sebuah jalan yang ingin kutuju? Dengan lubang-lubang yang pasti saya lalui dan perbukitan yang pasti saya daki? Meski dengan kepedihan hati yang juga pasti?

Perasaan ini telah merasuki saya. Jauh, sejak dulu. Sejak ratusan, bahkan ribuan hari yang lalu. Saya tidak punya keyakinan. Tidak, atas diri saya sendiri. Saya merasa payah. Apa yang saya punya dan dapat saya banggakan pada orang? Apa yang bisa saya tekuni hingga saya dapat merasa bahagia? Mau dibawa kemana hidup ini? Maukah berlari mengitari lorong yang sama terus-menerus? Maukah mengepakkan sayap ke pegunungan asing? Saya jalan di tempat. Sejak dulu. Tanpa tahu apa dapat saya lakukan bagi bangsa ini.

Idealisme ada. Ide pun tak kalah. Tetapi mengapa tak kunjung juga keyakinan itu datang? Tidak juga keragu-raguan itu hilang? Akankah esok jadi esok yang sama? Sampai kapan?


Akankah angin bertiup dan membisikkan sejumput kata-kata manis? Ataukah bilur perih justru datang lagi dan lagi?

Tuesday, April 10, 2012

Demotivated

All of sudden, I feel demotivated to do anything. Began to think that none of what I did matters anymore, although without any proper reasons. I am just so much demotivated. List of my current and potential activities in front seems overwhelming. Even, it fogs up my mind. Am I doing the right thing in life? Am I good enough? Am I worthy enough?

Thursday, April 5, 2012

Thank You

Praise to God for all the blessings I got. I know You are there. Thank You. Thank You.
I know it would not be enough, especially with the misconducts I did.
But I want to thank You for the endless love.

Cerita Cinta Enrico


Tidak pernah habis rasa kagum saya membaca tulisan Ayu Utami. Halaman demi halaman terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja. Setiap katanya memberikan kesan yang amat mendalam di dalam lubuk hati. Terlebih dari itu, saya menangkap kesamaan dari tulisan beliau dengan almarhum Pramoedya Ananta Toer, yang juga salah satu tokoh inspirasional idola saya, terutama ketika Ayu berusaha mengangkat kritiknya terhadap peristiwa sejarah yang melingkupi hidupnya dan memperlihatkan permukaan sejarah dari wajah yang berbeda.

Enrico tumbuh dalam situasi pergerakan sejarah Indonesia melawan intrusi Barat di tanah air, diceritakan menghadapi berbagai kemelut hidup dan kerasnya kehidupan. Secara gamblang Ayu mengungkapkan betapa didikan orang tua dan lingkungan mempengaruhi perkembangan seorang anak, remaja, pemuda, hingga akhirnya menjadi orang dewasa yang sama sekali berbeda. Di sinilah saya bisa merasakan betul kejujuran Ayu dalam menampilkan realitas hidup yang tak banyak disadari manusia modern zaman sekarang. Kemahirannya menggambarkan setiap suasana dengan penuh nuansa emosional, terutama kala Enrico mengalami pergumulan dengan keminoritasannya, dengan agama, dengan kasih terhadap ayahnya, maupun kekecewaan kepada ibunya, benar-benar menusuk dinding-dinding hati saya.

Nilai-nilai yang dianut Ayu dalam hidup selalu terpatri dalam setiap tulisannya, baik implisit maupun eksplisit. Tetapi itulah yang selalu menjadi bahan perenungan atas kekaguman saya pada beliau. Karena beliau selalu membuat saya membutuhkan waktu untuk sendiri, melihat ke kedalaman hati untuk tahu apakah apa yang saya percayai telah benar, apakah saya berbuat hal yang benar dalam hidup, namun yang terpenting, apakah telah cukup otak saya berputar dan berpikir mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terlontarkan? Karena saya yakin, seluruh pergumulan hidupnya lah yang membuatnya "kaya" akan begitu banyak pengetahuan dan pemikiran-pemikiran hebat.

Perempuan ini begitu cerdas dan menginspirasi. Profisiat. Salut.


*PS: Terima kasih Hasti Triana Putri untuk bukunya :)

Sunday, April 1, 2012

Rindu

Belum tepat sehari tak bertemu denganmu. Namun gelisah sudah terasa.
Sekaligus berbunga-bunga. Semoga untuk selamanya.

Monday, March 26, 2012

At last


Welcome, at last.

Saturday, March 24, 2012

Bahagia yang Sederhana


Ternyata, untuk bahagia itu sederhana.
Sesederhana berkumpul bersama sahabat tercinta.
Terima kasih banyak Amanda Dwyniaputeri dan Yovita Ayu Liwanuru :D

Jakarta, 23-24 Maret, 2012